“Tulisan dapat melemparmu ke masa yang kau abadikan, menenggelamkanmu dalam emosi yang kau deskripsikan, lalu meninggalkanmu dengan kenangan yang mungkin ingin kau ulang. Hal positif dan negatif yang membaur, terkadang datang bersamaan.”

Advertisements

Batas

Akhir-akhir ini rasa sakit itu lebih sering muncul. Entah karena aku yang melemah, atau memang hal-hal ini terlalu banyak untuk kutanggung sendirian. Aku bukannya tak mengingatkan diriku untuk tetap tegak menantang semua yang menerjang tiap sel dalam tubuhku dan memporak-porandakan aku dari dalam. Namun rasa-rasanya makin hari makin menipis saja alasanku untuk bertahan.

Filsuf yunani yang dikutip Soe Hok Gie benar, “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah yang berumur tua.” Bertahun-tahun lalu aku selalu berharap menjadi orang bernasib baik kedua; mati muda. Tanpa kusangka, keinginan itu sempat terhapus digantikan doa-doa agar berumur panjang ketika aku bertemu seseorang yang kurasa tepat.

Selama lebih dari dua tahun dia memberiku alasan untuk berjuang. Baik berjuang mendapatkan seluruh hatinya, maupun berjuang menjalani kehidupan yang kurasa tidak lebih baik dari ketiadaan.

Aku yang alergi terdadap pernikahan, tiba-tiba bermimpi membangun keluarga kecil yang bahagia dengan anak laki-laki dan perempuan yang cerdas dan jenaka bersamanya. Sikapku melunak, standar perlakuan seseorang terhadapku kurevisi berkali-kali demi tetap menempatkan dia dalam hidupku. Aku melupakan kesalahan-kesalahannya yang besar dan kecil, menutupnya dengan alasan akupun memiliki kesalahan terhadapnya-besar dan kecil.

Jatuh, bangun, tersungkur, terjungkal, terseret-seret sampai berdarah dan bernanah aku tak peduli. Aku tetap mempertahankan senyumku (yang semoga terlihat manis) walau sesekali bendungan air mataku jebol juga karena kesakitan yang amat sangat.

Tampaknya Tuhan tidak akan membiarkan hambanya hanya merasa atau belajar hal itu-itu saja. Buktinya belakangan ini harapanku kian menipis dan kerap merasa sendirian, tanpa dukungan atau sekedar waktu untuk mendengarkan. Aku maklum. Seperti yang sudah sangat sering kulakukan; memaklumi dan mengerti, tanpa dimaklumi dan dimengerti.

Kutipan Gie tentang filsuf yunani itu terngiang lagi di kepalaku. Makin sering saat aku merasa kosong dan sakit. Makin kuat saat air mata tak mampu lagi aku kendalikan. Bedanya, dulu aku hanya berharap, saat ini aku mencari caranya, yang termudah dan tercepat agar aku tak perlu menatap malaikat maut lama-lama.

Bekasi, 29 April 2018

Istirahat Berkepanjangan

Sudah berbulan-bulan lamanya aku tak menulis apapun. Jangankan artikel pesanan untuk berbagai website, status facebook yang rencananya ingin aku rutinkan posting pun hanya menjadi wacana. Sebabnya entah apa. Padahal hidupku juga tidak datar-datar saja. Banyak kejadian yang layak ditulis dan hal-hal yang bisa menjadi sumber inspirasi. Tapi nyatanya aku tak juga menulis. Malas. Lelah. Kosong. Entah.

Ya, semoga saja fase ini cepat berlalu. Semoga dalam waktu dekat aku bisa konsisten menulis lagi untuk mengabadikan perasaanku, melantangkan pendapatku, dan mengarsipkan potongan-potongan kecil kejadian di hidupku dengan tulisan.

Semoga saja besok tidak lelah dan tidak mengantuk sesampainya di rumah…

Pertanyaan

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Sapardi Djoko Damono
Suatu hari ia bertanya padaku, “Mengapa kau begitu buta (dalam mencintaiku)?” Aku terdiam sebentar, lalu menghela nafas dalam-dalam dan mulai mengetik pesan balasan. “Tidak. Aku tidak buta. Justru aku sangat memahami hakikat mencintai dan membangun hubungan sehingga aku mencintaimu sedemikian rupa. Sebelum bersamamu, aku selalu mencari seseorang yang tepat. Aku tak pernah merasa puas dengan pasangan yang aku miliki dan hanya fokus dengan kekurangan mereka. Aku membayangkan pasangan dan hubungan yang sempurna dan ideal, seratus persen sesuai dengan seleraku. Namun, setelah sekian lama, aku menyadari bahwa TIDAK ADA ORANG YANG TEPAT. Tak akan ada orang yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita. Yang ada hanyalah dua orang yang masing-masing merasa cukup dan berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain.”

Itu alasanku. Tak perlu kau pertanyakan lagi. Pun tak perlu heran dengan sikap keras kepalaku dalam mencintaimu. Nikmati sajalah.

IMG_20170327_145019

Hujan Tak Punya Rencana

Hujan ingin bermuara di suatu tempat. Dalam gurau, Laut kerap kali mengutarakan bahwa ia ingin menjadi tempat terakhir dari pengembaraan Hujan. Entahlah. Bermuara tampaknya sedikit menakutkan bagi Hujan sekarang. Bukan karena ia takut berdiam diri di satu tempat saja selama sisa hidupnya. Tapi ia takut, saat ia menginginkannya (oh, bahkan merencanakannya), seketika semua berubah menjadi bencana. Jadi Hujan memutuskan untuk tak banyak bicara, apalagi berencana. Hujan percaya, Laut akan bersiap jika ia memang benar-benar menginginkannya. Menyambut Hujan yang jatuh di puncak musimnya. Di awal bulan Desember.

“Aku tak pernah bersumpah memenangkanmu. Namun menunggu lama sekali aku mampu. Aku tak akan mati-matian berakhir dalam pelukmu. Namun aku tetap mengiringi langkahmu. Hingga Tuhan katakan ya, atau katakan cukup.”

Tentang Dia

Aku tahu, kadang dia merasa lelah. Terlampau lelah sehingga rasanya dia ingin menyerah saja. Tentu aku tidak diam. Sudah kuingatkan dia berkali-kali untuk pergi dan menyelamatkan hati serta harga dirinya yang tersisa, namun dia tetap tak bergeming.

Dia menutup mata dan telinganya, membohongi orang-orang terdekatnya, bahkan membohongi dirinya sendiri. Aku harap kalian memahami alasannya sebaik aku. Diam saja dan jangan berkomentar apa-apa, karena sesungguhnya derita dan kebimbangan di hatinya sudah cukup menyiksa.

Tak perlu berkata dia bodoh, karena siapa pun tahu tak ada orang cerdas yang rela berada di tempatnya sekarang ini. Hal itu tak usah lagi diperdebatkan. Dia sendiri menyadarinya. Kadang sambil tertawa-tawa, kadang sambil berlinangan air mata.

Bagaimana tidak tertawa dan menangis, jika untuk merasa dicintai dan diinginkan saja dia harus membohongi dirinya? Bagaimana dia bisa bertahan tanpa kebohongan-kebohongan itu? Tidak bisa. Dia tidak bisa. Mau tak mau dia harus terus menutup mata dan telinganya, terus-menerus berkata pada dirinya sendiri kalau dia dicintai sebesar dia mencintai, dan membiarkan orang-orang terdekatnya mengira begitu.

Oh, aku kasihan sekali padanya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada. Bagaimanapun dia lah yang berhak mengambil keputusan. Namun aku berjanji, selagi dia terus-menerus membohongi dirinya dan orang-orang di sekelilingnya, aku pun akan terus-menerus mengingatkannya. Semoga dia tahu kapan waktunya berhenti. Dan semoga, jika waktu itu akhirnya tiba, aku masih bisa menyelamatkannya.

Bekasi, 25 Mei 2016

The Happener

Him: Wake up. Eat and make you bed.

Her: I did it all

Him: Good. *Reward kiss

Her: 😜 have you lunch?

Him: Ya, I have. I eat local salad.

Her: Gado-gado?

Him: Ya, you know it.

Her: And what are you doing now?

Him: Still thinking an idea for the article. Do you have any?

Her: What kind of article? Life style, health, relationship?

Him: Health. I made relationship one.

Her: Work out for busy-kekinian-man. Hahaha

Him: Hmm. It can be. Checked. Good

Her: Get me another reward?

Him: Hmm. What? What do you want? So far I just can send kisses.

Her: Anything you want to do for me as my reward.

Him: Okay. I put you onto my back. That’s the reward. I’ll carry you for 10 metres ahead. Sounds like punishment for me.

Her: Hahaha. My weight is just 47 kg. That’s not heavy.

Him: Seriously? It’s so light. I will be fun if I hold you during make out. Hahaha

Her: You wish.

Him: No. You know me. I’m not wisher. I’m the happener. It will… It will…

Her: If it isn’t yet happen then that’s only a wish. Once again, you wish. 😜

Him: It will. I prefer call it PLAN.

Her: Oh yeah? Let see how perfect your plan come true.

Him: Let see. It need no perfection. I only need time and atmosphere. You died girl. You dieeedd.

Her: So, now I know it’s dangerous to give you time and create an intimate atmosphere.

Him: Ya. And I’m stupid. Damn! You already know my plan. You should die now.

Her: No, you’re not stupid. I’m just too smart for you. Hahaha

Bekasi, 30 April 2016
*once upon a time conversation

Life Lesson Number 47: Being a Jobless

What the worse thing than being broken heart? I can tell you this: being a jobless. Okay, you won’t cry all day and have to put ice cubes on your puffy eyes, you won’t get thinner and look like a zombie because you only drink a glass of water or cups of coffee a day (probably just a bottle of cold beer), you won’t sleepless and use telescope to spy your ex, you won’t create ‘the what if scenes’ in your desperate mind.

But as a jobless your stress level will get higher day by day, your pride fade away, the people around you will start to judge that you’re useless and don’t have a bright future, they’ll keep pushing you with many unimportant questions, give you advice and showing an empathy that you never expected, then the last thing you know is you’re hiding from this cruel society. See? Being broken heart is better than being a jobless. At least you still have all of your pride (oh, course if you don’t took the stupid challenge like #ciumketekpacar and shared it on your social media. Believe me girls, that’s not cool to swallow your pride like that), and pretending showing to the world that all is fine.

Since I graduated my study last December, almost 5 months ago, I looking for my dream job. First and second months being a jobless wasn’t hard. I was so excited to applied any job which is suitable with my qualification. Third months I was a lil bit nervous. Fourth months my mom said I should beg for mercy to god. She said, maybe my sins cover my luck up. And now I’m so worry I’ll never get my dream job or any job. So sad. 😥

Well, I do believe I’ll get anything I want include my dream job if I don’t quite. But as I told you before, it isn’t easy to survive and keep your head high when you still hanged your life on your parents. That’s impossible to reach your pure freedom if you can’t earn money by yourself. Because of that, I desired of financial freedom which can be the gate of other freedom. So I have to find a job. I have to unlock this prison, coz I won’t be a prisoner called jobless.

Wish me luck!

Bekasi, April 23th 2016