Pertanyaan

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Sapardi Djoko Damono
Suatu hari ia bertanya padaku, “Mengapa kau begitu buta (dalam mencintaiku)?” Aku terdiam sebentar, lalu menghela nafas dalam-dalam dan mulai mengetik pesan balasan. “Tidak. Aku tidak buta. Justru aku sangat memahami hakikat mencintai dan membangun hubungan sehingga aku mencintaimu sedemikian rupa. Sebelum bersamamu, aku selalu mencari seseorang yang tepat. Aku tak pernah merasa puas dengan pasangan yang aku miliki dan hanya fokus dengan kekurangan mereka. Aku membayangkan pasangan dan hubungan yang sempurna dan ideal, seratus persen sesuai dengan seleraku. Namun, setelah sekian lama, aku menyadari bahwa TIDAK ADA ORANG YANG TEPAT. Tak akan ada orang yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita. Yang ada hanyalah dua orang yang masing-masing merasa cukup dan berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain.”

Itu alasanku. Tak perlu kau pertanyakan lagi. Pun tak perlu heran dengan sikap keras kepalaku dalam mencintaimu. Nikmati sajalah.

IMG_20170327_145019

Hujan Tak Punya Rencana

Hujan ingin bermuara di suatu tempat. Dalam gurau, Laut kerap kali mengutarakan bahwa ia ingin menjadi tempat terakhir dari pengembaraan Hujan. Entahlah. Bermuara tampaknya sedikit menakutkan bagi Hujan sekarang. Bukan karena ia takut berdiam diri di satu tempat saja selama sisa hidupnya. Tapi ia takut, saat ia menginginkannya (oh, bahkan merencanakannya), seketika semua berubah menjadi bencana. Jadi Hujan memutuskan untuk tak banyak bicara, apalagi berencana. Hujan percaya, Laut akan bersiap jika ia memang benar-benar menginginkannya. Menyambut Hujan yang jatuh di puncak musimnya. Di awal bulan Desember.

“Aku tak pernah bersumpah memenangkanmu. Namun menunggu lama sekali aku mampu. Aku tak akan mati-matian berakhir dalam pelukmu. Namun aku tetap mengiringi langkahmu. Hingga Tuhan katakan ya, atau katakan cukup.”

Tentang Dia

Aku tahu, kadang dia merasa lelah. Terlampau lelah sehingga rasanya dia ingin menyerah saja. Tentu aku tidak diam. Sudah kuingatkan dia berkali-kali untuk pergi dan menyelamatkan hati serta harga dirinya yang tersisa, namun dia tetap tak bergeming.

Dia menutup mata dan telinganya, membohongi orang-orang terdekatnya, bahkan membohongi dirinya sendiri. Aku harap kalian memahami alasannya sebaik aku. Diam saja dan jangan berkomentar apa-apa, karena sesungguhnya derita dan kebimbangan di hatinya sudah cukup menyiksa.

Tak perlu berkata dia bodoh, karena siapa pun tahu tak ada orang cerdas yang rela berada di tempatnya sekarang ini. Hal itu tak usah lagi diperdebatkan. Dia sendiri menyadarinya. Kadang sambil tertawa-tawa, kadang sambil berlinangan air mata.

Bagaimana tidak tertawa dan menangis, jika untuk merasa dicintai dan diinginkan saja dia harus membohongi dirinya? Bagaimana dia bisa bertahan tanpa kebohongan-kebohongan itu? Tidak bisa. Dia tidak bisa. Mau tak mau dia harus terus menutup mata dan telinganya, terus-menerus berkata pada dirinya sendiri kalau dia dicintai sebesar dia mencintai, dan membiarkan orang-orang terdekatnya mengira begitu.

Oh, aku kasihan sekali padanya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada. Bagaimanapun dia lah yang berhak mengambil keputusan. Namun aku berjanji, selagi dia terus-menerus membohongi dirinya dan orang-orang di sekelilingnya, aku pun akan terus-menerus mengingatkannya. Semoga dia tahu kapan waktunya berhenti. Dan semoga, jika waktu itu akhirnya tiba, aku masih bisa menyelamatkannya.

Bekasi, 25 Mei 2016

The Happener

Him: Wake up. Eat and make you bed.

Her: I did it all

Him: Good. *Reward kiss

Her: 😜 have you lunch?

Him: Ya, I have. I eat local salad.

Her: Gado-gado?

Him: Ya, you know it.

Her: And what are you doing now?

Him: Still thinking an idea for the article. Do you have any?

Her: What kind of article? Life style, health, relationship?

Him: Health. I made relationship one.

Her: Work out for busy-kekinian-man. Hahaha

Him: Hmm. It can be. Checked. Good

Her: Get me another reward?

Him: Hmm. What? What do you want? So far I just can send kisses.

Her: Anything you want to do for me as my reward.

Him: Okay. I put you onto my back. That’s the reward. I’ll carry you for 10 metres ahead. Sounds like punishment for me.

Her: Hahaha. My weight is just 47 kg. That’s not heavy.

Him: Seriously? It’s so light. I will be fun if I hold you during make out. Hahaha

Her: You wish.

Him: No. You know me. I’m not wisher. I’m the happener. It will… It will…

Her: If it isn’t yet happen then that’s only a wish. Once again, you wish. 😜

Him: It will. I prefer call it PLAN.

Her: Oh yeah? Let see how perfect your plan come true.

Him: Let see. It need no perfection. I only need time and atmosphere. You died girl. You dieeedd.

Her: So, now I know it’s dangerous to give you time and create an intimate atmosphere.

Him: Ya. And I’m stupid. Damn! You already know my plan. You should die now.

Her: No, you’re not stupid. I’m just too smart for you. Hahaha

Bekasi, 30 April 2016
*once upon a time conversation

Life Lesson Number 47: Being a Jobless

What the worse thing than being broken heart? I can tell you this: being a jobless. Okay, you won’t cry all day and have to put ice cubes on your puffy eyes, you won’t get thinner and look like a zombie because you only drink a glass of water or cups of coffee a day (probably just a bottle of cold beer), you won’t sleepless and use telescope to spy your ex, you won’t create ‘the what if scenes’ in your desperate mind.

But as a jobless your stress level will get higher day by day, your pride fade away, the people around you will start to judge that you’re useless and don’t have a bright future, they’ll keep pushing you with many unimportant questions, give you advice and showing an empathy that you never expected, then the last thing you know is you’re hiding from this cruel society. See? Being broken heart is better than being a jobless. At least you still have all of your pride (oh, course if you don’t took the stupid challenge like #ciumketekpacar and shared it on your social media. Believe me girls, that’s not cool to swallow your pride like that), and pretending showing to the world that all is fine.

Since I graduated my study last December, almost 5 months ago, I looking for my dream job. First and second months being a jobless wasn’t hard. I was so excited to applied any job which is suitable with my qualification. Third months I was a lil bit nervous. Fourth months my mom said I should beg for mercy to god. She said, maybe my sins cover my luck up. And now I’m so worry I’ll never get my dream job or any job. So sad. 😥

Well, I do believe I’ll get anything I want include my dream job if I don’t quite. But as I told you before, it isn’t easy to survive and keep your head high when you still hanged your life on your parents. That’s impossible to reach your pure freedom if you can’t earn money by yourself. Because of that, I desired of financial freedom which can be the gate of other freedom. So I have to find a job. I have to unlock this prison, coz I won’t be a prisoner called jobless.

Wish me luck!

Bekasi, April 23th 2016

Aperio

I have the deepest affection for intellectual conversations. The ability to just sit and talk about life, about love, about everything, about anything. To sit under the moon with someone who I trust the most, share our wildest dreams, talk about our past without any pretention, talk about what’s really important in life, laugh a lot realize that life is so funny and thanked to God for our togetherness. Bound by no obligations, barred by no human limitations. To speak without regret or fear of consequence. To just talk for hours, maybe end up with arguing for something unreal then we just stop then we cuddle (or have rough sex. P.s: God, gimme huby as soon as possible please :p) not because one of us win the argument but because we’re too tired and that ‘fight’ turn us on.

As an introvert person, a phlegmatic one (well, though I can easily turn into choleric to take control in some situations), it’s so rare for me to share what’s in my mind, my deepest ‘no-box thinking’. Just the right person who have an ability to makes me comfortable can see the truly me. Poor me, to find the person with the same interest with a good vibrance is so difficult. People now days have more interest to talk about material object, what things look cool right now, or coffee from American brand while they’re looking for validation on social media. They have no idea about humanity, politics, problems in the third country, or philosophy. No, I can’t say that’s wrong, but yeah… it’s useless. I can’t stand in a conversation like that.

Many boys trying to getting close with me. But you know what they’re talking about? A standard fuckin’ convy like “have you eat today?”, “have you trying that new cafe?”. Or something worse like showing off what they have. So dumb! I mean, what’s the urgency to talk about your motorcycle or your car? I don’t care if you ride a Vespa, have a luxurious car, or even a Duccati. Oh boys, surprise me with your thought! Tell me something I don’t know that’s exist, tell me about your journey, your opinion, your ambition, your dreams, tell me funny things that can make me roll on the floor. Though I won’t be your gf (that’s need more effort and more sparks), I’m sure I’d appreciate you and so happy to talk to you. Last, you have to remember this boys, I see your IQ and EQ like you see woman breasts. It’s more interesting if it’s have a large number, isn’t it? lol.

Bekasi, 31 March 2016

Judulnya Entah

Sudah hampir empat bulan terakhir aku tak selesai membaca satupun buku kecuali sebuah novel ringan dengan gaya penulisan ala chicklit yang aku habiskan dalam waktu tiga jam saja. Buku-buku sastra, filsafat, dan sejarah masih tersimpan rapi dengan plastik-plastiknya. Begitupun dengan menulis, kecuali artikel-artikel pesanan, aku jarang sekali menuangkan isi kepalaku yang bercabang-berpilin-bertumpang-tindih tak tahu aturan. Aku mengerti mengapa aku begini. Well, karena alasannya cukup menyenangkan, maka aku memaafkan diriku sendiri dan memutuskan untuk membiarkan diriku bermain-main sampai aku merasa cukup. Kau tahu? Menjadi anak kecil itu, walaupun rapuh, namun sangat menyenangkan. 🙂

Bekasi, 16 Maret 2016
*Perempuan berambut merah terus mengawasi dan menceramahiku, bahkan ingin merebut kendali dariku. Ia selalu nampak cemas dan ketakutan perempuan berlipstik merah datang. Sedang perempuan berlipstik merah hanya diam di sudut memperhatikan kalau-kalau aku butuh bantuan, dan tersenyum mengejek pada perempuan berambut merah. Oh, dasar perempuan-perempuan!

Pilihan-Pilihan

Kepalaku terlalu penuh. Bingung mau berbuat apa, mau menentukan apa… Setiap pilihan memiliki konsekuensi, baik yang menyenangkan atau yang mungkin akan menyengsarakan. Kini aku hanya mengulur-ulur waktu untuk memilih. Bahkan cinderung lari dari keharusan untuk memilih. Sepertinya kata-kata pria itu ada benarnya; “You’re not a risk taker. You just wait and see.” Memang, biasanya aku hanya menunggu apa yang terjadi kemudian, kemana takdir membawaku. Dan biasanya pula, aku beruntung. Namun kali ini aku jenuh diam, aku bosan tak bergerak, aku tak mungkin bermain dadu dengan takdir terus-menerus. Mau tidak mau, aku harus mengambil keputusan. Tapi apa? Apa yang harus aku pilih? Hemm… Bukankah tak memilih juga merupakan pilihan?

Bekasi, 6 Maret 2016